Wow…untuk mencapai kampung halamanku Pulau Kramian memang cukup melelahkan, setelah 14 jam dari Jakarta menuju Surabaya, melalui kereta api..Argo Anggrek aku memilih alat transportasi ini karena mungkin lebih murah dari tiket garuda hehe selain itu aku ingin menikmati perjalananku saat ini karena aku tidak terlalu buru2 namanya juga pengangguran. Setibanya di Pasar Turi Surabaya aku tak langsung bergegas ke tanjung perak di mana kapal yang akan kutumpangi sedang berlabuh di sana, tapi aku bergegas mencari tempat penitipan barang dan restoran untuk bersantap pagi.

Jam 9.30 tepat aku tiba di tanjung Perak, sepertinya masih sepi dan para awak kapal juga masih membersihkan sisa-sisa sampah yang berserakah di atas kapal akibat ulah penumpang dari Maselembo ke Surabaya. Aku menghampiri loket pembelian tiket dan seorang perempuan setengah baya menghampiriku dan bertanya, “sampean Lina ya?” aku menjawab saja “iya”, rupanya ibu itu adalah ibu yang selalu yang aku telepon jika aku ingin pulang kampung tapi baru kali ini aku melihat bentuk wajahnya.

Alhasil, setelah membeli tiket seharga Rp. 48.000, akhirnya aku berada di atas kapal yang akan membawaku ke Pulau Maselembo, pulau yang dikenal dengan peristiwa tenggelamnya kapal tampo mas II pada tahun 1981. Perjalanan dari Tanjung Perak ke Pulau Maselmbo sekitar 15 sampai 17 jam tergantung pada kecepatan kapal mesin yang membawa kami dan waktu yang kami tempuh saat itu hanya 15 jam, berangkat jam 3pm 20 April dari tanjung perak tiba di Masalembo jam 5am 21 April and that was nice..apalagi ombak sedang surut jadi perjalanan cukup menyenangkan apalagi sepanjang perjalanan dipenuhi dengan obrolan2 manis sesama penumpang yang tentunya penumpang yang santun menyapa padaku hehehe
Jam 5am tepat aku mendarat di dermaga Masalembo, melihat gayaku yang agak berbeda dengan penumpang lainnya..tentu saja sebagian penumpang atau penjemput memandangku dengan pandangan dan mimik yang berbeda2..ya aku melenggak saja karena itu toh ga ada pengaruhnya buat aku. Aku menaiki sebuah becak menuju taxi (perahu kecil yang berukuran 4x4 yang biasa ditumpangi orang2 pulauku yang hendak menyebrang ke pulau2 lainnya atau sekedar menyeberang untuk berbelanja bulanan di pulau Masalembo-red hanya dengan ongkos Rp. 25. 000-30.000) yang sedang berlabuh menunggu para penumpang lainnya, sesampai area “taxi” hanya satu taxi yang hendak berangkat ke pulauku…melihat kedatanganku, sekali lagi para penumpang dan awak kapal memandangku ke arahku, salah satu dari mereka menyapa; “mau kemana mba?” “apa perahu ini ke kramian?” tanyaku…”iya mba…jawab yang lainnya dengan ramah…salah satu dari awak merapatkan perahu ke bibir dermaga sehingga aku bisa melangkahkan kaki-ku dengan sempurna ke atas perahu, di atas perahu tak henti2nya mata penumpang menatapku setengah mulut terbuka seakan ingin menyapa…aku arahkan seluruh pandangan di atas perahu sekedar memastika apa ada salah satu penumpangnya yang aku kenal? Dan benar saja di sudut kapal duduk seorang laki2 yang juga memandang ke arahku dengan mimik berkerut tanda berpikir atau mungking sedang mencoba mengingat2…”oiiiiiii…ka Saf”.. teriak-ku padanya..sontak saja penumpang dan para awak menoleh padaku…”ka saf..ini aku Lina…anaknya Haji Muni”,teriak-ku lagi.. (nama bapak-ku H. Munir tapi penduduk Kramian memanggil beliau H. Muni, red), tergopoh2 dia menghampiriku “ahhhh iko pale Lin …kupikirki artis dari mana” (kamu toh Lin, aku pikir artis dari mana-red) “hahahaha…” aku hanya terbahak kencang sekali…ehhh aku tidak berubah masih suka teriak, masih suka tertawa riang layaknya anak pulau…di tengah perbincanganku dengan Saf, muncul seorang wanita sebaya aku, menyapa…”Lina????” Tanyanya sambil memeluk jaket di tangannya…aku tidak menyapa kembali..aku hanya memandangi wajahnya lamat2..dia Nampak semakin ragu, aku coba perhatikan bekas luka di sudut bibirnya yang kanan..rasanya aku kenal anak ini..”tunggu..tunggu…tolong kasih aku waktu untuk mengingat kamu..jangan pergi..aku kenal..kenal..aku kenal..Rossssssss?????” Masya Allah, Ros… gadis ini teman masa SD-ku dan bekas luka itu adalah kecelakaan yang menimpanya ketika dia dan kakaknya naik sepeda dari rumahnya di gunung menuju sekolah kami di dekat pantai..bapaknya adalah petani singkong dan aku suka datang ke rumanya untuk beli atau sekedar menukar singkong dengan beras..oh masa kecilku tiba2 berputar2 di kepalaku, perpisahan terjadi ketika kami tamat SD aku melanjutkan ketingkat lanjut sedangkan dia melanjutkan usaha keluarga yakni bertani singkong dan setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi sampai akhirnya detik ini kami dipertemukan kembali. Mungkin keadaan, cuaca atau karena akibat kerja keras wajahnya Nampak tua dari yang sebenarnya.. “ya ampun Lin..kamu ko beda banget sekarang, dulu kan kamu hitam sekali, gendut” celotehnya sambil terus memegangi tangaku sekali2 mencubitnya seakan2 ga percaya bahwa yang ada di depan matanya adalah teman masa SDnya yang hitam gendut…dan tukang jual gula2 hehehe

Jam 10 teng! Taxi yang kami tumpangi beranjak dari dermaga pulau masalembo menuju pulau Kramian yang akan ditempuh 5-6 jam…tentu saja dengan ombak yang sedang pasang…maka terjadilah perahu oleng ke kiri dan ke kanan yang cukup kencang..meski begitu tidak satupun dari para penumpang yang menunjukan rasa khawatir, dan meskipun aku mabuk berat dan muntah2 aku tetap ingin menyaksikan gelombang yang mencapai 4-5 meter tersebut, tapi sebagian dari penumpang juga ada yang tertidur pulas, oh pulauku..jauh sekalinya rasanya untuk mencapaimu! Tepat jam 3 sore kami tiba di dermaga pulau Kramian, ya ampiun banyak sekali manusia di sana..aku mengarahkan pandanganku ke sekeliling mencari penjemput, mungkin kakak-ku atau om-ku…”Linaaaaa…!” seseorang meneriaki-ku..ahh ternyata teman masa kecil yang langsung mengenaliku, karena kami memang sering bertemu ketika aku pulang kampung..”heyyyy….” sapaku kembali…”mana suami-mu?” teriaknya kencang..aku hanya tersenyum…di ujung sana, rupanya kakak dan om ku sudah menunggu sambil melambaikan tangannya ke arahku…ahhhaaa, ternyata tidak hanya berdua dari beberapa keluargaku ikut menjemput, walah ada apa ini? Ko banyak banget yang jemput? Hmmmm rupanya mereka piker aku datang bersama suamiku yang berkebangsaan Kanada itu hehe, tapi sayang aku pulang sendiri tidak dengan suamiku tercinta!
Hmmm perjalanan yang cukup panjang untuk mencapai pulauku, tidak cukup kalo hanya seminggu…tapi ya aku ucap syukur karena akhirnya aku sampai juga ke rumahku meski ibu dam salah satu kakak-ku sedang pergi ke Asam-Asam salah satu pulau di Kalimantan Selatan, untuk beberapa hari. senang bisa berada di rumah tua milik orang tuaku, beberapa sauadara dan tetangga berdatangan untuk sekedar bersalaman denganku yang katanya dari kota besar dan bersuamikan bule ;-)

0 comments:

Post a Comment