Behind the Scene of My 8 Weeks Pregnancy!


Bagaimana ya rasanya, pernikahan-mu sudah hampir memasuki usia 7 tahun tapi belum juga memiliki momongan? Orang di sekeliling-mu sibuk mengusulkan ini dan itu supaya kamu bisa memiliki momongan, dari mengusulkan-mu ketukang pijat aka dukun beranak sampai meminta-mu melakukan proses bayi tabung? #WTF!

Lalu dalam “ketidak pedulian-mu” menanti momongan #baca;let it flow!, kamu didiagonasa positif hamil, Bagaimana reaksi-mu? Follow the story below! ;) :P :D
Setelah sebulan penuh menghabiskan liburan bersama keluarga suami di Kanada, kami tiba di tanah air pada tanggal 14 Januari 2015. Masih dengan sedikit jet lag, aku kembali menunaikan kewajiban diri sebagai karyawan sehari setelah ketibaan.

Januari bulan Januari oh bulan Januari bulan ini seharusnya aku kedatangan “tamu regular” tapi mungkin karena lelah berlebihan atau terlalu banyak jalan sehingga terlupakan dan hampir tidak ingat sama sekali kalau seharusnya “ia” datang bulan ini?? Tapi kemana “ia” ko’ tak kunjung datang? Sementara semua tanda2 sudah ada, dari PMS, sakit sana sakit sini sampai dengan sakit bo***** nggak enak badanlah bawaannya uring2an, hmmmmm???

Tanggal 24 Januari tepatnya hari Sabtu aku terbangun sedikit telat karena kepala tiba2 pusing, badan rasanya berat banget, tapi aku paksakan untuk tetap bangun karena harus sholat shubuh, sebelum ke kamar mandi ambil air wudhu, aku menuju kotak P3K yang selalu tersedia di Apartement mungil-ku, bukan untuk mengambil obat sakit kepala tapi untuk mengambil test pack yang aku beli beberapa bulan lalu, aku dilanda rasa penasaran di pagi hari yang menggugah-ku untuk melakukan test “iseng2 beruntung” di pagi hari. Terus terang, aku tidak tahu seperti apa isi dari test pack ini :D, ternyata ada mangkuk kecil di dalamnya, aku coba baca cara menggunakannya dengan teliti, dan setelah beberapa menit, aku hampir melompat dari kamar mandir dan berteriak memanggil suamiku yang masih tertidur pulas. “Sayannnnnggg, I’m pregnant!”/ “what’s going on?”/ “I’m pregnant, look! (sambil menunjukan hasil dari test aku yag bergaris dua)/” come down sayang, don’t freak out!” aku memeluk suami-ku, rasa senang, panik, kaget campur menjadi satu. “let’s see go to see a doctor then”/ “wait until tomorrow sayang”/ “ok then if you say so!”. Sambil mengucap syukur berkali-kali aku kembali melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air Wudhu untuk sholat Shubuh.

Hari minggu tanggal 25 Januari, aku terbangun cukup pagi, aku kembali melakukan test dengan alat test pack yang sempat aku beli kemarin, masih merk yang sama namun aku beli yang sedikit lebih bagus ;) hasilnya tetap sama, oh Allah! Aku benar2 hamil? Kali ini aku bangunkan suami dengan pelan dan bilang: “sayang, I’m really pregnant!” / “ya sayang, if you’re pregnant, you’re pregnant! Don’t panic, we have to go to see to doctor to make sure everything is fine!”/ “sigh! Aku kembali memeluk suami-ku, senang, dan kaget tak percaya aku ternyata bisa hamil juga, ya Allah, terimakasih!

Hari Senen tanggal 26 Januari aku ke kantor seperti biasa. Aku mulai searching doktert kandungan yang paling popular dan banyak bicarakan di google, ada beberapa nama yang tampil: dr Eka Putra SPog, dr. Ali Sungkar dan dr Suharjanti dan beberapa dr. kandungan dari rumah sakit lain, aku coba telp ke Brawijawa Hospital tempat dr. Ali Sungkar praktek kebetulan juga aku pernah cek 2 kali sama beliau jadi mungkin akan lebih mudah berkomunukasi jika sudah pernah ada record sebelumnya dengan beliau, namun sayangnya hari Senen beliau tidak praktek, prakteknya hari Selasa. Aku telp ke MMC dimana dr Eka Putra dan dr. Suharjanti praktek, aku coba tanya kebagian pendaptaran, jika saya mau ke dokter kandungan di MMC, dr siapa yang kira-kira bisa direkomendasikan buat aku? perempuan yang di balik telp bertanya : ibu hamil? Anak keberapa? Aku jawab..aku jawab, lalu ia kembali bilang : mungkin ibu bagusnya ke dr Eka Putra, beliau bagus dan senior di MMC. Alright then! Aku daftar dan kebagian jam 6 sore, tepat! Aku bisa menemuinya setelah pulang kantor.

Jam 5pm teng! Aku langsung mabur dari kantor menuju MMC bersama suami, tak sabar meunggu apa kata dokter? Syukurnya tidak ada macet  dan bisa sampai ke MMC tepat waktu, ah ternyata masih ada pasien lain sehingga aku sedikit menunggu, menunggu cemas-cemas penuh harap sambil terus mengucap “bacaan islam”, diam-diam aku terus lihatin hasil di test pack yang bergaris dua, ya Allah aku hamil? oh kayak nggak percaya!

“ibu Erni Herlina Munir!” yups, that’s me! Huff dokternya benar “senior sekali” :D /apa kabar dok? (aku menyapa duluan berusaha menghilangkan rasa gugup aku dan ingin membuat senyaman mungkin dengan dokter ini soale sudah cukup tua..:D)/ baik..baik..silahkan duduk, gimana..gimana? ada yang bisa dibantu?/ iya dok, dari hasil ini (sambil menunjukan 2 test pack kepada beliau) aku sepertinya positif, kami mau memastikan lagi dok, dan ingin cek “keadaanya”/ iya baik, bisa ke ruang sebelah sana, kita coba cek dulu ya,/ aku mengikut dan meminta suamiku mengikut juga, aku diminta berbaring dibantu suster, dr Eka mulai melakukan USG perut, oh My God! Beneran aku hamil! Aku kembali ke meja dan berhadapan dengan dokter, / gimana dok?/ iya ibu hami! Dan kelihatannya bagus kandungannya/ oh Alhamdulillah!/ how many week is that? (suamiku bertanya)/”it’s about 6 weeks!” mendengar dokter bilang 6 minggu, aku dan suamiku saling berpandangan, sementara dokter sibuk mempersiapkan resep obat yang akan diberikan pada-ku, dan jadwal control berikutnya adalah taanggal 28 Februari 2015.

Hari Rabu tanggal 28 Januari aku ke Semarang tepatnya ke Jepara untuk urusan kerjaan selama 2 hari, aku senang banget, Karena aku tidak merasa apa2 kecuali memang aku harus lebih banyak berhati-hati, Dan kembali tiba di Jakarta juga dalam keadaan sehat wal-afiat.

Hari berganti hari, aku bawaannya rasa happy saja, aku tidak merasa mual, rasanya aku lebih tenang, merasa lebih sehat tak mengeluh, sampai suamiku bilang: “if I knew that when you’re pregnant you never  complain, I would’ve make you pregnant before!” aku tahu suami-ku bercanda saja ;) aku memang merasa lebih banyak bersyukur dan juga tak henti2nya aku mengelus perut-ku dan mengajaknya bicara: “kamu harus kuat ya nak, kamu pasti jagoan mommy!” L L L
Hari Minggu tanggal 8 Februari, aku berangkat ke Pekalongan dalam rangka menghadiri acara pernikahan anak Walikota Pekalongan, lagi2 aku merasa bersyukur karena aku merasa sehat2 saja dan kembali mengajaknya bicara sambil mengelus2nya: “yang kuat ya nak, yang sehat ya!”. Hari Senen tanggal 9 Februari aku kembali ke Jakarta bersama seorang teman kantor menggunakan kereta api dan kami dihadang banjir besar di daerah Gambir di pusat Jakarta, tak ada satupun taxi atau bajaj yang mau membawa kami ke area kantor kami di daerah Thamrin, terpaksa kami jalan kaki dari Gambir ke Thamrin, cukup memakan waktu dengan genangan air yang cukup tinggi, lagi-lagi aku merasa baik-baik saja, sesampai di kantor aku sholat dan berdoa untuk kesehatan-ku dan kesehatannya “didalam”.

Hari Rabu tanggal 11 Februari, aku ke kantor seperti biasa, tapi sebenarnya jika aku sadar dan berhati-hati lagi, hari ini adalah berawalnya tanda-tanda aku akan kehilangannya L. Sore harinya menjelang sholat Ashar, aku melihat sedikit flek keluar, lalu aku coba bicara sama teman kantor, dia tanya: “banyak nggak?” aku bilang, hanya titik saja. Lalu dia bilang, mungkin nggak apa2. Aku sedikit lega dan kembali ke meja-ku sambil searching di google mengenai flek pada saat hamil, tak ada yang perlu dikhawatirkan pada dasaranya dari berita yang aku baca sehingga sore dan malam pun berlalu.

Hari Selasa tanggal 10 Februari, aku melakukan aktivitas seperti biasa, dan pada sore hari menjelang sholat Ashar aku kembali mengalami hal yang sama tapi kali ini lebih banyak, aku sudah mulai panic dan khawatir, aku bercerita pada teman yang sama sambil memperlihatkan ********** kepadanya, ia meminta aku memcoba cek ke dokter. Sebelum aku telp ke MMC aku telp ke suamiku untuk datang menjemput-ku, mendengar berita yang aku sampaikan, suamiku kaget. Selanjutnya aku telp ke MMC, dr. Eka rupanya tidak praktetk hari Kamis, jadi aku bertanya dokter siapa yang praktek? Katanya di balik sana, dr. Suharjanti, oh iya nggak apa2, aku daftar ya! Lagi2 aku kebagian jam 6.30pm sd jam 7pm, seperti biasa jam 5 teng aku langsung pergi dari kantor menuju MMC. Setiba disana, aku tak cukup lama menunggu karena aku memang sampai tepat waktu, karena mungkin aku buru2 atau kebiasaan-ku berjalan cepat, dr Suharjanti menegur; “eit, yang masuk ke ruangan ini umumnya orang hamil lho!” (katanya sambil tersenyum ramah keibuan)/ iya dok…./ aku duduk sambil menarik nafas/ gimana ibu Herlina?/ iya dok, saya hamil 6 minggu tapi aku ada sedikit ada pe*********..(sambil memperlihatkan sisa yang aku simpan barusan setelah dari toilet)/ ohh..lumayan banyak ya../ hmmmm..iya dok..ucap-ku dengan nada sedih. Dr Suharjanti mencoba membaca record data pemerkisaan aku dengan dr. Eka sebelumnya, aku melihat beliau manggut-manggut./ sudah di USG?/ sudah dok, tapi baru USG dari perut saja…/ kita coba USG transvaginal ya…/ duh apa itu dok?/ yok kita coba lihat…/ aku dituntun oleh seorang suster, aku diminta buka ****** dan diminta naik ke kursi yang belum pernah aku lihat sebelumnya karena selama ini kalau aku cek ke dokter kandungan aku hanya melakukan USG dari perut. Sambil menutup muka,antar malu dan geli dr Suharjanti melakukan tugasnya sesekali membuka suara: /” bagus ini, darahnya juga sudah nggak ada, posisi janin bagus, Rahim masih tertutup”/ mendengarnya aku sungguh lega, sambil kembali menggunakan ******-ku, aku kembali ke meja semula, sang dokter mencoba menerangkan dalam bahasa Inggris biar suami-ku juga mengerti. Iya! Tidak ada apa2, aku kembali ke apartemen-ku sambil menbawa begitu banyak tambahan obat dari dokter dan control kembali 2 minggu lagi kalau tidak apa2.

Sejak hari itu, aku memang selalu mengalami pen******* kecil2an tapi aku belum begitu khawatir dan masih melakukan aktivitas hari2ku seperti biasa, sampai pada hari Kamis tanggal 12 Februari aku mengalami pen******* yang cukup banyak, aku langsung telp ke MMC dan karena sudah cukup malam, aku terpaksa dikirim ke ruang labor dan ditangani sama bidan dan dokter jaga, aku diberikan obat yang dimasukin ke a***, dan juga obat panahan pen*******, aku ditanya: /”ibu Herlina, kami mau telp dokter, kira2 mau dokter siapa? Karena kami lihat ada dr Eka dan dr. Suharjanti…/ nanti ada cek dalam2 lagi ya sus? Kalau gitu dokter Suharjanti saja ya….(doh nggak kebayang aku dicek2 dalam2nya sama dokter laki2..:D)/ iya baik, kami akan coba telpkan dr. Suharjanti../ tak lama kemudian suster mungil yang bernama Mentari mendatangi-ku dan bilang: /”mohon maaf bu, dr berhalangan datang, tapi kita coba kasih obat ini dulu ya, kalau memang masih ada pen****** beliau akan paksakan datang…./ ya terpaksalah malam itu aku bermalam di ruang labor ditemani suami. 

Keesokan harinya, Alhamdulillah pen******* berhenti, jadi aku boleh pulang, dan minta kontrol lagi hari Selasa tanggal 17 Februari 2015.
Tadinya aku memang santai tapi ternyata mulai khawatir, tak henti2nya berdoa dan membaca doa yang sekiranya bisa dibaca, aku tidak mau kehilangan janin ini Tuhan; ya Allah, berikan kesehatan keselamatan dan kekuataan kepada-ku juga kepada janin-ku, itu salah satu yang acapkali aku panjatkan sepanjang jalan sepanjang aku menarik nafas, sambil terus mengelus perut-ku dan mengajaknya berbincang : please..kuat ya nak! Kamu jagoan mommy! ingat nggak? Mommy main snow sliding, mommy main ice  skating, mommy ajak jalan2 muterin kota Amsterdam berjam2 jalan kaki, penerbangan yang panjang dan jauh, kamu pasti sudah sudah ada di dalam perut mommy, kamu kuat sayang, kareka kamu pasti jagoan mommy, kamu pasti kuat seperti mommy..please kuat ya bertahan ya! :( :( :(

Meskipun aku diliputi rasa cemas dan khawatir, aku masih saja tak mau berhenti dari semua kegiatan, aku ingin tetap terlihat kuat dan baik2 saja dan memang sepertinya begitu, sampai hari Selasa tanggal 17 Februari pagi aku dikabari kalau dr. Suharjanti sakit dan tentu saja tidak bisa datang, jadi mungkin bisa dilakukan hari Kamis pada tanggal 19 Februari, aku bilang: iya baik! Tapi apa hendak dikata jam 12 siang aku kembali mengalami pen******* yang sudah cukup parah, aku panik dan gemetaran aku langsung telp ke labor dan disarankan datang segera, tanpa babibu aku langsung menuju ke ruang labor MMC, aku ditangani langsung dengan bidan yang sama, dan langsung menelp dr. Suharjanti, samar2 aku dengar dr. Suharjanti bertanya: dokter yang praktek hari ini? Sang bidan menyebut beberapa dokter salah satunya dr Kencana Shinta, pas mendengar nama dokter disebut rasanya aku mau langsung bilang: “iya nggak apa2 dr Shinta saja!” tapi rupanya dr. Suharjanti menyarankan ke dr. Shinta saja dahulu sementara beliau sakit dan benar2 tidak bisa datang. Tanpa menunggu lama lagi, suster mungil yang bernama Mentari mengantar aku ke ruang praktek dr. Shinta, aku sering juga mendengar nama dr. Shinta pernah juga direkomendasikan sama teman yang satu apartemen, katanya bagus, suaminya bule sangat perhatian dan memang benar, pas melihatnya, langsung adem saja rasa khawatir hilang sejenak, berbicara seperti teman, begitu juga ketika meminta aku untuk kembali melakukan USG transvaginal, uhhh lagi2 aku harus menga******** untuk keduakalinya, beda dokter beda cara, dr Shinta sambil melakukan tugasnya sambil mengajak bicara yang ringan, mulai dari tinggal dimana? Usia pernikahan? Usia berapa tahun? Lahir bulan apa? Tak terasa, semua sudah dicek tanpa terasa.

Hasil dari dr Shinta pun sama dengan dr Suharjanti sebelumnya, bahwa  posisi janin bagus Rahim pun masih tertutup yang berarti masih bisa dipertahankan. Pulang dengan perasaan lega.

Tanggal 18 February kembali berkantor seperti biasa, bahkan hari itu aku terlampau sibuk rasanya, sorepun menjelang, aku minta izin pulang lebih awal karena rasanya kurang sehat. Jam 17.00 aku tiba di Apartemen dan tiba-tiba saja, aku kembali mengalami pen******* luar biasa, aku tidak tahan melihat darah yang begitu banyak keluar. Aku kembali diantar ke MMC.  Jam 19.00 kami tiba di Rumah Sakit dan langsung ke ruang labor, seperti biasa para suster menangani  dengan cekatan. Salah suster aku dengar menelepon dr Suharjanti, karena aku memang meminta dr Suharjanti, namun dr Suharjanti masih sakit sehingga beliau tak bisa hadir, dan beliau memandatkan kepada dr Shinta lagi tapi dr. Shinta sudah berada di Bogor dan tidak memungkinkan kembali lagi ke Rumah Sakit, seorang suster datang pada-ku dan bertanya: “ibu Herlina, bagaimana kalau kami panggilkan dr. Eka, dokter pertama ibu?” “dr. Eka ya? Aku sebenarnya ingin dokter  perempuan, sus..” suami-ku ikut bicara: “ sayang, man or woman they are all the same, you need a doctor now!” ya baiklah suster aku manut saja!

Tak lama, dokter Eka muncul, lho ko’ bisa secepat ini datangnya beliau? Ah rupanya beliau tinggal tak Jauh dari MMC, beliau menyapaku dengan ramah, mengajak-ku berbincang-bincang ringan setelah mendengar keterangan dari suster mengenai keadaanku, “kita cek dulu ya bu Herlina” kata dokternya, “doh.. cek apa ini dokter?”/ “kita coba kandungan ibu” (hmmmm..God! beneran juga aku harus ditangani dokter laki2, gumam-ku dalam hati). Aku masuk ke ruang  yang  biasa digunakan untuk melahirkan, aku dicek kembali seperti yang telah dilakukan oleh dr. Suharjanti dan dr. Shinta dan hasilnya? Sama! Posisi janin tepat di tempatnya, rahim masih ketutup, jadi? Masih bisa dipertahankan. Lalu suami-ku bertanya apa sebenarnya yang menyebabkan adanya pendarahan? « ini disebut pendarahan implentasi yakni menempelya sel telur pada dinding rahim sehingga bisa menyebabkan flek atau pendarahan. » dan pendarahan ini biasanya dianggap normal karena katanya 20 % sd 30 % kehamilan mengalami pendarahan dan 80% bisa tetap dipertahankan sampai melahirkan.

Well….Kata dokter aku boleh pulang, bed rest at least one week, berbekal obat2an yang lebih banyak, aku pulang dengan perasaan lega, aku juga merasa lebih enak. Jam 20.30 aku keluar dari Rumah Sakit dan karena merasa lapar dalam perjalanan pulang, aku meminta suami-ku untuk berhenti di Plan B Spanish Restaurant yang ada di kawasan Senayan, kami pun mampir makan malam di sana, aku hanya makan Salmon plus hot limon tea untuk minumanku (apa ada yang salah dengan makanan itu?), kami memang tidak berlama2 di sana karena perut-ku mulai mulas sehingga kami buru2 pulang, jam 22.30 tiba di Apartemen, aku tidak sempat lagi cuci muka sikat gigi, perut-ku sudah sangat mulas luar biasa, suami-ku bolak balik nggak jelas, aku keringatan menahan rasa sakit yang luar biasa. Suamiku minta aku berbaring dan memeluk-ku, sejenak aku merasa nyaman dan tertidur, tapi tak bertahan lama, perut-ku rasanya kayak diremas2 sakit sekali, Allahu Akbar! Lailahaillah! Lahaula Wala Quwata Illa Billah Hil Aliyil 'Azim! Kenapa sakit begini Tuhan? Aku benar2 merasakan sakit yang luar biasa dan aku hanya bisa mengucap dan terus mengucap sampai pagi menjelang.

Jam 06.30 aku berangkat ke Rumah Sakit masih dengan perut mulas, aku tak berhenti menangis, menangis antara menahan sakit dan memikirkan the worst case scenario happen L. Jam 08.00 kami tiba di Rumah Sakit, aku tidak sanggup lagi berjalan sehingga harus menggunakan kursi roda.

Aku kembali ke ruang labor, ditangani seperti biasa tapi kali ini lebih ketat, aku diinfus untuk penahan sakit kontraksi katannya (ya ampun, ini toh namanya kontraksi?) aku tidak tahu jika kontraksi itu begini sakitnya. Tak lama kemudian dr. Eka muncul dan bilang: “ apa yang ibu alami saat ini sebenarnya ciri2 miscarriage, tapi kita tetap usahakan yang terbaik ya bu, pokoknya ibu kita tangani dulu ya, kita usahakan yang terbaik”  huff aku tak tahan untuk tidak menangis mendengar ucapan dr. Eka. Aku sudah tidak diizinkan ke kamar mandi, mau pipis atau mau BAB harus di pispot, sementara dr. Ekan masih berada di samping-ku memberikan wejangan ringan sambil menepuk2 ringan kaki-ku. Setelah rasa sakit “kontraksi”-ku hilang, dr. Eka pamit sebentar, aku memang tidak merasakan sakit apa2 lagi, makanya aku minta suamiku pulang dulu untuk istirahat.  Namun selang beberapa waktu aku mengalami pen******* terus menerus justru rasanya semakin banyak, suster 3 kali bolak balik membuang isi pispot  sampai ke 4 kalinya aku rasakan ada sesuatu yang jatuh ke pispot “plukkk!” oh Tuhan perasaan-ku sungguh sudah tidak enak, oh janinku keluar suster! teriak-ku. Suster mengambil pispot dan aku melihat suster memasukan sesuatu ke dalam toples kecil, dr. Eka muncul lagi dan bilang dengan wajah sangat menyesal: “bu Herlina, janinnya nggak bisa dipertahankan lagi!”  ya Allah, tumpah sudah air mata-ku, dr. Eka kembali memberi wejangan, ah aku sebenarnya nggak suka ditangani oleh beliau pada awalnya tapi akhirnya jatuh suka juga jadinya, mungkin karena beliau bukan hanya menangani aku secara ke kedokterannya tapi mungkin juga beliau mencoba menempatkan dirinya sebagai seorang bapak kepada anaknya. I’m gonna keep him for my next pregenancy I think ? ;)     
my first testpack

Begitulah, cerita demi cerita dari hari pertama aku tahu diriku hamil sampai akhirnya kehamilanku berkahir pada tanggal 19 February jam 10.00 di MMC Jakarta. Semua seperti mimpi!


Tentu ini menyedihkan meski pada awalnya kehamilan ini bukan hal yang diprogram tapi mendapatkannya adalah kebahagian yang luar biasa dan kehilangannya pun adalah hal yang menyedihkan.

Karena menurut dokter, kandungan aku baik-baik saja, Rahim aku juga Insya Allah tidak ada masalah dan kemungkinan besar bisa hamil lagi
my secont testpack
dalam 3 bulan ke depan, jadi sekarang harus lebih berhati-hati senantiasa jaga diri lahir dan batin sehingga sehatnya juga lahir dan batin. Amin YRA!





6 weeks

8 weeks



its clean no more emberio :(

#akuinginhamillagi
#hamilituindah
#hamilitukebahagian


0 comments:

Post a Comment